GARUT BERKABAR, Leles – Musibah kebakaran yang menghanguskan rumah keluarga Entis Sutisna di Kampung Pasirsalam, Desa Haruman, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, menyisakan duka sekaligus pekerjaan besar untuk memulihkan kehidupan mereka.
Kebakaran terjadi pada Kamis (13/8/2026) sekitar pukul 00.30 WIB. Rumah yang ditempati Entis bersama istrinya, Herni, dan empat anak mereka ludes dilalap api. Dalam peristiwa tersebut, keluarga itu nyaris kehilangan seluruh harta benda dan hanya berhasil menyelamatkan diri dengan pakaian yang melekat di tubuh.
Sehari setelah kejadian, Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, mendatangi keluarga korban pada Kamis pagi sekitar pukul 08.00 WIB.
Kunjungan tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus dukungan moril bagi keluarga yang tengah menghadapi masa sulit. Yudha membawa bantuan berupa sembako dan santunan uang tunai untuk membantu memenuhi kebutuhan awal keluarga Entis.
Menurut Yudha, bantuan tersebut memang belum sebanding dengan kerugian yang dialami. Namun, perhatian dari berbagai pihak diharapkan dapat memberikan kekuatan agar keluarga korban tidak merasa menghadapi musibah seorang diri.
Untuk sementara, Entis, Herni, dan keempat anaknya tinggal bersama orang tua mereka yang masih berada di kampung yang sama.
Bantuan pemerintah daerah juga kemudian diberikan. Aparatur Sipil Negara dari Dinas Sosial Kabupaten Garut dan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Garut turut mendatangi keluarga korban dengan membawa bahan kebutuhan pokok serta sandang.
Meski kebutuhan makanan dan pakaian mulai terbantu, persoalan utama masih menanti. Keluarga Entis membutuhkan tempat tinggal agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Yudha pun mendorong Pemerintah Kabupaten Garut untuk mencari skema pembiayaan bersama, terutama karena persediaan bantuan material bangunan di Dinas Perumahan dan Permukiman Kabupaten Garut saat ini terbatas.
Ia mengusulkan agar dukungan pembangunan rumah dapat dihimpun melalui kolaborasi pemerintah, program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, serta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
“Di tengah sudah tidak adanya stok bahan bangunan di Disperkim Kabupaten Garut, saya berharap Pemkab Garut dapat mengoptimalkan kolaborasi pendanaan, baik melalui CSR maupun Baznas, untuk membantu Pak Entis Sutisna membangun rumahnya kembali,” ujar Yudha.
Ia menilai, persoalan serupa juga dialami sejumlah warga Garut lainnya yang rumahnya terbakar atau ambruk akibat berbagai musibah. Karena itu, diperlukan pola penanganan yang melibatkan banyak pihak agar keterbatasan anggaran dan material tidak menjadi penghambat pemulihan korban.
Yudha juga menekankan pentingnya optimalisasi dana sosial dan zakat untuk membantu masyarakat yang kehilangan tempat tinggal. Menurutnya, keluarga yang kehilangan rumah sekaligus harta benda membutuhkan respons cepat agar kondisi mereka tidak semakin berat.
Lebih dari sekadar membangun kembali bangunan, Yudha memandang rumah sebagai tempat bagi keluarga untuk memulihkan kehidupan dan menata kembali masa depan.
Karena itu, semangat gotong royong dinilai menjadi kunci. Pemerintah, dunia usaha, Baznas, komunitas, serta masyarakat dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing untuk membantu keluarga Entis kembali memiliki tempat tinggal.
Kebakaran di Kampung Pasirsalam tersebut pada akhirnya bukan hanya menyisakan puing, tetapi juga menjadi ujian bagi solidaritas sosial masyarakat. Di tengah kehilangan yang begitu besar, dukungan bersama diharapkan dapat menumbuhkan kembali harapan keluarga Entis untuk bangkit.
Dari lokasi kebakaran, harapan itu kini bertumpu pada kepedulian banyak pihak. Sebab, membangun kembali rumah bagi keluarga Entis bukan hanya tentang mendirikan bangunan, tetapi juga mengembalikan ruang bagi mereka untuk melanjutkan kehidupan. (**).






