“Politik di tingkat pusat penuh dinamika dan tekanan, membuat daerah sering kali terbatasi dalam membuat keputusan sendiri,” jelas Dudung. Meskipun sempat mendapat dukungan B1 KWK dari Partai Demokrat, Dudung memilih untuk mundur setelah mempertimbangkan berbagai masukan dari pihak-pihak terkait.
Keputusan ini juga menjadi kejutan bagi Ceng Haris, ketua tim pemenangan Dudung, yang mengaku sangat emosional saat mendengar berita tersebut. “Kami telah bekerja keras selama enam bulan terakhir dan membangun dukungan di beberapa desa dan kecamatan. Keputusan ini sangat berat, tetapi kami menghormati pilihan Pak Haji Dudung,” kata Haris.
Meskipun tidak lagi berpartisipasi dalam Pilkada 2024, Dudung berjanji untuk tetap mendukung para relawan dengan membentuk badan hukum independen yang akan memantau jalannya pemilu. Selain itu, ia juga berencana mendirikan gerakan “Garut Butuh Penyegaran” untuk menampung aspirasi masyarakat di luar pemerintahan. Keputusan Dudung ini diterima dengan perasaan campur aduk oleh para relawan yang, meskipun kecewa, tetap menghormati langkah yang diambil. (Vik)