Garut di Persimpangan : Antara Pelestarian Alam dan Ancaman Degradasi Lingkungan

- Jurnalis

Senin, 14 Oktober 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GARUT BERKABAR,Tarogong Kaler – Kabupaten Garut terkenal dengan kekayaan alam yang melimpah serta keanekaragaman hayati yang mengesankan. Hal ini mendorong pemerintah daerah untuk menetapkan kebijakan berbasis konservasi, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) yang menekankan pemanfaatan sumber daya alam melalui agribisnis, pariwisata, dan industri dengan pendekatan mitigasi bencana.

Namun, akhir-akhir ini, kualitas lingkungan di Garut mengalami penurunan signifikan. Ini memunculkan pertanyaan penting: Apakah Garut masih layak dianggap sebagai wilayah konservasi, atau justru berada di ambang krisis lingkungan?

Merosotnya kualitas lingkungan membuat banyak pihak prihatin, terlebih regulasi terkait tata ruang sudah jelas diatur dalam Perda maupun Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH). Penegakan aturan dan sanksi bagi pelanggaran menjadi perhatian serius.

Pengamat lingkungan menilai bahwa degradasi ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Pembangunan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan memperburuk ekosistem, berdampak langsung pada kehidupan masyarakat setempat.

Pelestarian lingkungan memerlukan sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Jika tidak ada langkah serius untuk menjaga kelestarian sumber daya alam, Garut bisa kehilangan statusnya sebagai kawasan konservasi dan terancam krisis lingkungan.

Inilah Pandangan Ketua LIBAS, Tedi Sutardi, Terkait Ancaman Lingkungan di Garut

Tedi Sutardi, Ketua Lingkungan Anak Bangsa (LIBAS), baru-baru ini menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan di Garut, terutama terkait penurunan fungsi kawasan. Menurutnya, masyarakat harus berperan aktif dalam menjaga alam, mengingat Garut merupakan daerah dengan kekayaan hayati yang luar biasa.

“Kita perlu meningkatkan pengawasan, terutama di kawasan rawan kerusakan lingkungan seperti Sub DAS Cimanuk. Kegiatan monitoring dan penanaman kembali harus diperkuat,” ujar Tedi Sutardi pada Minggu (14/10/2024).

Tedi menyoroti bahwa aktivitas manusia yang tidak memerhatikan daya dukung alam menjadi salah satu penyebab kerusakan lingkungan. LIBAS terus berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat dengan program yang melibatkan pemantauan langsung, terutama di area yang rentan bencana.

“Masyarakat perlu bekerja sama dalam rehabilitasi lingkungan, dengan fokus pada penanaman kembali dan pengawasan. Sinergi dengan pemerintah dan komunitas menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan alam ini,” tambahnya.

Menurutnya, mitigasi bencana harus dijadikan prioritas dalam setiap kebijakan pembangunan. LIBAS mendukung penuh langkah pemerintah dan masyarakat dalam menjaga ekosistem Garut agar tetap sehat dan berkelanjutan. (Red)
Baca Juga :  Kebakaran di Banjarwangi : Tiga Rumah di Desa Kadongdong Terbakar

Berita Terkait

Tinggi Air Bendung Copong Naik, Warga Diminta Tetap Waspada
Tragedi di Pantai Sayang Heulang: Bocah 11 Tahun Asal Bandung Tewas Terseret Arus
Libur Lebaran, Pantai Selatan Garut Dipadati Wisatawan dari Berbagai Daerah
Fluktuasi Tinggi Muka Air Bendung Copong, Masyarakat Diminta Tetap Waspada
H+1 Idul Fitri 1446 H: Arus Lalu Lintas Padat di Simpang Bayongbong, Garut
Bupati Garut Pastikan Kelancaran Arus Mudik 1446 H dengan Tinjauan Lapangan
Idul Fitri 1446 H Dirayakan Serentak di Indonesia pada 31 Maret 2025
Debit Sungai Cimanuk Terkendali, Bendung Copong dalam Kondisi Aman
Berita ini 0 kali dibaca